BERITA DARI MESJID NABAWI (Sudah Di Translate Dalam Bhs. Indonesia)

BERITA DARI MASJID NABAWI…

BERITA DARI MASJID NABAWI…

BERITA PENTING….

BERITA UNTUK UMMAT ISLAM DISELURUH DUNIA.

SURAT INI DATANGNYA DARI SYECKH ACHMAD DI SAUDI ARABIA :

“AKU BERSUMPAH DENGAN NAMA ALLAH SWT DAN NABI MUHAMMAD SAW ” WASIAT UNTUK SELURUH UMMAT ISLAM DARI SYECKH ACHMAD SEORANG PENJAGA MAKAM RASULULLAH DI MADINAH, YAITU MASJID NABAWI SAUDI ARABIA.

“Pada malam tatkala hamba membaca AlQur’an dimakam Rasulullah, dan Hamba sampai tertidur,lalu hamba bermimpi.. Didalam mimpi hamba bertemu sengan Rasulullah SAW, dan beliau berkata, ” didalam 60.000 orang yang meninggal dunia, diantara bilangan itu tidak ada seorangpun yang mati beriman, dikarenakan :

  1. Seorang istri tidak lagi mendengarkan kata-kata suaminya.
  2. Orang kaya yang mampu, tidak lagi melambangkan atau menimbangkan rasa belas kasih kepada orang-orang miskin.
  3. Sudah banyak orang tidak berzakat, tidak berpuasa, tidak sholat dan tidak menunaikan ibadah Haji, padahal merek-mereka ini mampu melaksanakan.
  4. Oleh sebab itu wahai Syeckh Achmad engkau sabdakan kepada ummat manusia di dunia supaya berbuat kebajikan dan menyembah kepada Allah SWT.” Demikian pesan Rasulullah kepada hamba, Maka berdasarkan pesan Rasulullah tersebut dan oleh karenanya hamba berpesan kepada segenap Ummat Islam di dunia : -Bersalawatlah kepada Nabi Besar kita Muhammad SAW. -Janganlah bermalas-malasan untuk mengerjakan sholat 5 ( lima ) waktu.

BERITA DARI MASJID NABAWI…

  • Bershodaqoh dan berzakatlah dengan segera,
  • santuni anak-anak yatim piatu.
  • Berpuasalah di bulan Ramadhan
  • serta kalau mampu tunaikan segera ibadah haji.

PERHATIAN : Barang siapa saja yang membaca surat ini hendaklah menyalin/mengcopynya untuk disampaikan orang-orang yang beriman kepada hari penghabisan/hari kiamat. Hari Kiamat akan segera tiba dan batu bintang akan terbit, AlQur’an akan hilang dan matahari akan dekat diatas kepala, saat itulah manusia akan panik. Itulah akibat dari ketakutan mereka yang selalu menuruti hawa nafsu dalam jiwa. Dan Barang siapa yang menyebarkan surat ini sebanyak 20 ( dua puluh ) lembar dan disebarkan kepada teman-teman/rekan-rekan anda atau Masyarakat islam sekitarnya, maka percayalah anda akan memperoleh kebaikan setelah dua minggu kemudian. Telah terbukti pada seorang pengusaha di Bandung, setelah membaca dan menyalinnya juga menyebarkan sebanyak 20 (dua puluh) lembar, maka dalamjangka waktu 2 ( dua ) minggu kemudian, dia mendapat keuntungan yang sangat luar biasa besarnya… Sedangkan terhadap orang yang menyepelekannya dan membuang surat ini, Dia mendapat musibah yang besar yaitu kehilangan sesuatu harta/benda yang sangat dicintai dan disayanginya. Perlu diingat kalau kita sengaja tidak memberitahukan surat ini kepada orang lain, maka tunggulah saatnya nasib apa yang akan anda alami, dan janganlah menyesal apabila bencana secara tiba-tiba atau kerugian yang sangat besar. Sebaliknya jika Anda segera menyalin/mengcopynya dan menyebarkannya kepada orang lain, maka anda akan mendapatkan keuntungan besar atau rezeki yang tiada disangka-sangka. Surat ini ditulis S.T. STAVIA sejak surat ini menjelajah dan mengelilingi dunia, dan pada akhirnya sampai kepada Anda. Percayalah beberapa hari lagi sesuatu akan datang kepada Anda dan keluarga Anda,

BERITA DARI MASJID NABAWI…
KEJADIAN-KEJADIAN YANG TELAH TERBUKTI !

  1. Tn. Mustafa mantan menteri Nasabah Malaysia, dipecat dari jabatannya karena beliau lupa setelah menerima surat ini, tidak menyebarkannya , kemudian beliau ingat surat ini, lalu beliau menyalinnya dan menyebarkannya sebanyak 20 lembar. Beberapa lama kemudian beliau dilantik kembali menjadi menteri Kabinet.
  2. Tn. Gojali mantan menteri Malaysia telah menerima surat ini, tidak menyebarkannya, kemudian beliau menyalinnya sebanyak 20 lembar dan menyebarkannya, beberapa hari kemudian beliau mendapat keuntungan yang luar biasa besarnya. Dengan adanya kejadian-kejadian tersebut diatas sebagai bukti, untuk saya sarankan agar Anda tidak merahasiakannya, dan anda segeralah menyebarkannya untuk teman-teman atau rekan-rekan Anda. Tunggu kabar baik dalam waktu dua minggu setelah Anda menyebarkan surat ini. Allah SWT akan meridho’i niat baik Anda, Selamat bertugas dan berkarya. Salam, PENJAGA MAKAM RASULULLAH SAW SYECKH ACHMAD-MADINAH
Iklan

Terjemah_Ta_limul_Muta_alim

Karya: Syekh Az-Zarnuji
Mukaddimah
ِ ِ   ا
ِ ْ   ا
ا ِ ِ ْ  ِ
Dengan menyebut asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
>8 #$% ، و () ب وا ) ا +, + -. #$% م 0 ة وا 02 ، وا 3) ا 4 5 #$% 6 ) وا $)3 دم 8 #9 #$% 6:; ى = ا
+ - ا
?- م وا @$) ا 439A >3-B .وأ
Segala puji bagi Allah yang telah mengangkat harkat derajat manusia dengan ilmu dan amal,
atas seluruh alam. Salawat dan Salam semoga terlimpah atas Nabi Muhammad, pemimpin
seluruh umat manusia, dan semoga pula tercurah atas keluarga dan para sahabatnya yang
menjadi sumber ilmu dan hikmah. Baca lebih lanjut…

Dajjal dan Simbol Setan

Alhamdulillah, kami dapat menerbitkan buku yang mengungkap. “konspirasi global” kaum zionis dan Dajal dalam
program pengafiran terhadap umat Islam dan umat beragama umumnya, yang bertajuk Dajal dan Simbol Setan ke
hadapan umat
Rasulullah Muhammad saw bersabda bahwa sepuluh tanda-tanda datangnya hari kiamat adalah munculnya asap tebal,
Dajal, binatang melata yang besar (dabbatan minal-ardhi), terbitnya matahari dari arah barat, turunnya Nabi Isa ibnu
Maryam, keluarnya Ya’juj dan Ma’juj, terjadinya tiga gerhana bulan di ufuk timur, ufuk barat, dan di Jazirah Arab, dan
munculnya api dari arah Yaman yang menggiring manusia ke arah Mahsyar (Padang Mahsyar) . (HR Bukhari, Muslim,
Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
Dalam buku ini dibahas secara rinci bahwa penafsiran tentang “binatang melata besar yang keluar dari dalam bumi”–
seperti disebutkan dalam Al-Qur’an surat an-Naml ayat 82– adalah gerakan bawah tanah yang disebut zionisme, yaitu
suatu gerakan kolaborasi rahasia yang ditata dengan rapi dan profesional, yang dimotori, disponsori, dan diaktorintelektuali
oleh Dajal dan setan. Target mereka khususnya adalah menjauhkan umat Islam dari nilai syariat Islam,
sehingga umat Islam menjadi kafir, juga umat agama lainnya pada umumnya. Dengan gerakan zionismenya, Dajal
menyusupi tatanan nilai-nilai kehidupan norma umat beragama –yang universal– kemudian diganti dengan “baju”
globalisasi keterbukaan, demokrasi, HAM, dan sebagainya.
Buku ini sangat penting bagi umat Islam untuk mengetahui dan menelaah sepak terjang dan bahaya paham Dajal
melalui gerakan zionismenya. Sebuah buku “pembongkaran” konspirasi global program Dajal beserta setan dalam
proyek pengafiran globalnya.
Begitupun dalam kaitannya dengan sepak terjang bahaya Dajal, Rasulullah saw. telah menegaskan sosoknya dalam
sabda beliau, Baca lebih lanjut…

Ada Pemurtadan di IAIN

Segala puji bagi Allah. Salam dan shalawat kita panjatkan ke hadirat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam,
Rasul pilihan dan manusia teragung yang dilahirkan di dunia ini.
Ketika penerbit disodori naskah buku ini, terus terang tanpa pikir panjang kita setujui. Karena tulisan beliau (Hartono
Ahmad Jaiz) sudah lebih dari sepuluh judul yang kita publikasikan, jadi kita sudah mengenal luar dan dalam
penulisnya. Dan umumnya buku-buku penulis berupa tanggapan terhadap fenomena kerusakan-kerusakan akidah yang
mendera umat Islam di Indonesia semenjak Orde Baru hingga terkini. Kalau kali ini yang kena ‘giliran’ IAIN tidaklah
terlalu mengejutkan. Sebab memang mereka yang jadi pemicunya. Ibarat pepatah, siapa yang menabur angin akan
menuai badai.
Fenomena maraknya kelompok yang menamakan dirinya sebagai Islam Liberal, sangat banyak yang berasal dari IAIN
maupun UIN. Bahkan ditengarai justru IAIN-IAIN dan UIN-lah yang menjadi lahan yang subur maraknya barisan
pengusung paham liberal. Sehingga pengusung paham pluralisme agama, nikah beda agama, pikiran-pikiran yang
keluar dari mainstream Qur’an-Sunnah banyak sekali dilahirkan dari rahim IAIN. Jadi kalau sekarang giliran IAINIAIN
dan UIN ‘diserang’ itu tadi imbas dari serangan yang bertubi-tubi dilakukan oleh dosen-dosen IAIN dan UIN
terhadap akidah Islam, terhadap Allah, Rasul-Nya dan kitab sucinya. Jadi jika buku ini menyinggung para pendidik di
lingkungan IAIN ya itu wajar dan bisa dimengerti karena tidak semua dosen bersikap seperti yang ditulis dalam buku
ini. Baca lebih lanjut…

Dajal, Ya’juj dan Ma’juj Part 2

Bab 03 : DAJJAL ADALAH IDENTIK (SAMA) DENGAN YA’JUJ WA-MA’JUJ
Segera setelah Al-Qur’an menerangkan pertempuran satu sama lain antara Ya’juj wa-
Ma’juj, ayat 102 menerangkan persoalan Dajjal. “Apakah orang-orang kafir mengira
bahwa mereka dapat mengambil hamba-hamba-Ku sebagai pelindung di luar Aku?”
(18:102). Ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an mempersamakan Dajjal dengan Ya’juj wa-
Ma’juj. Mereka diberi nama yang berlainan karena mempunyai dua fungsi yang
berlainan.

Adapun mengenai identitas Ya’juj wa-Ma’juj para mufassir tak sama pendapatnya. Ibnu
Katsir berkata, bahwa Ya’juj wa-Ma’juj adalah keturunan Adam, dan pendapat ini
dikuatkan oleh Hadits Bukhari dan Muslim. Menurut kitab Ruhul-Ma’ani, Ya’juj
waMa’juj adalah dua kabilah keturunan Yafits bin Nuh, yang bangsa Turki adalah
sebagian dari mereka; mereka disebut Turki, karena mereka turiku (ditinggalkan) di
sebelah sananya tembok. Selain itu, menurut uraian Al-Qur’an, terang sekali bahwa
mereka adalah sebangsa manusia, yang untuk menghalang-halangi serbuan mereka,
terpaksa dibangun sebuah tembok.

Adapun yang kedua, Ya’juj wa-Ma’juj diuraikan dalam Al-Qur’an sbb : “Sampai tatkala
Ya’juj wa-Ma’juj dilepas, mereka akan mengalir dari tiap-tiap tempat tinggi” (20:96).
Ternyata bahwa yang dimaksud dengan kalimat “mengalir dari tiap-tiap tempat yang
tinggi” ialah bahwa mereka akan menguasai seluruh dunia. Menilik cara Al-Qur’an
menerangkan Ya’juj wa-Ma’juj dalam dua tempat tersebut, terang sekali bahwa akan tiba
saatnya Ya’juj wa-Ma’juj mengalahkan sekalian bangsa di dunia. Dan terang pula bahwa
pada waktu Al-Qur’an diturunkan, Ya’juj wa-Ma’juj sudah ada, tetapi gerak-gerik mereka
masih tetap terkekang sampai saat tertentu, yang sesudah itu, mereka akan terlepas
untukmenguasai seluruh dunia.

Bab 04 : MENGAPA AL-QUR’AN TAK MENYEBUT-NYEBUT DAJJAL
Mungkin orang akan bertanya, jika sekiranya Dajjal dan Ya’juj wa-Ma’juj adalah dua
sebutan yang berlainan untuk menamakan satu bangsa, mengapa Al-Qur’an anya
menyebutkan nama Ya’juj wa-Ma’juj saja, dan tak sekali-kali menyebutkan nama Dajjal?
Sebabnya ialah bahwa kata Dajjal, sebagaimana kami terangkan di atas, artinya
“pembohong” atau “penipu”, dan tak seorangpun suka disebut pembohong atau penipu,
walaupun ia benar-benar seorang pembohong atau penipu yang ulung.

Sebaliknya, oleh karena Ya’juj wa-Ma’juj itu nama suatu bangsa, maka tak seorangpun
akan merasa keberatan memakai nama itu. Bahkan sebenarnya, bangsa Inggris sendiri
telah memasang patung Ya’juj wa-Ma’juj di depan Guildhall di London. Inilah sebabnya mengapa Al-Qur’an hanya menggunakan nama Ya’juj wa-Ma’juj, dan tak menggunakan
nama Dajjal yang artinya pembohong. Sebaliknya, kitab-kitab Hadits menggunakan kata
Dajjal, karena nama Dajjal atau Anti Christ, dan ramalan-ramalan yang berhubungan
dengan ini, disebutkan dalam Kitab Suci yang sudah-sudah. Oleh karena itu, perlu sekali
dijelaskan bagaimana terpenuhinya ramalan-ramalan itu.

Selain itu, kata Dajjal hanya menunjukkan satu aspek persoalan, yakni, kebohongan dan
penipuan yang dilakukan oleh bangsa itu, baik mengenai urusan agama, maupun
mengenai urusan duniawi. Akan tetapi terlepas dari sifat-sifatnya yang buruk, ada pula
segi kebaikannya.

Dipandang dari segi duniawi, kesejahteraan materiil mereka harus dipandang sebagai segi
kebaikan mereka. Itulah sebabnya mengapa dalam Hadits digambarkan, bahwa mata
Dajjal yang hanya satu, yaitu mata duniawi; gemerlap bagaikan bintang. Al-Our’an juga
menerangkan keahlian mereka dalam membuat barang-barang. Jadi julukan Dajjal
hanyalah sebagian dari gambaran bangsa itu.

Dalam Al-Qur’an, bangsa-bangsa Kristen disebut “para penghuni Gua dan inskripsi”
(18:9). Gambaran ini menggambarkan dua aspek sejarah agama Kristen. “Para penghuni
Gua” merupakan gambaran yang tepat bagi kaum Kristen dalam permulaan sejarah
mereka karena pada waktu itu ciri khas mereka yang paling menonjol ialah hidup dalam
biara. Mereka meninggalkan sama sekali urusan duniawi untuk mengabdikan sepenuhnya
dalam urusan agama. Dengan perkataan lain, mereka membuang dunia guna kepentingan
agama.

Akan tetapi pada zaman akhir, mereka digambarkan sebagai “Bangsa Inskripsi (ar-
raqimi)”. Kata raqmun artinya barang yang ditulis. Kata ini khusus digunakan bagi harga
yang ditulis pada barang-barang dagangan, seperti pakaian dan sebagainya. Gambaran ini
mengandung arti penyerapan mereka yang amat dalam, dalam urusan duniawi, fakta ini
diuraikan dalam Al-Qur’an sbb: “Orang-orang yang usahanya menderita rugi dalam
kehidupan dunia ini” (18:104).

Jadi, bangsa Kristen yang pada permulaan sejarah mereka membuang dunia untuk
kepentingan agama, tetapi pada zaman akhir, mereka membuang agama untuk
kepentingan dunia; oleh sebab itu, mereka dikatakan dalam Al-Qur’an sebagai “salah satu
pertanda Kami yang mengagumkan” (18:9). Sabda Al-Qur’an tersebut di atas adalah
gambaran yang tepat tentang kecondongan mereka kepada kebendaan. Oleh karena dalam
urusan duniawi, mereka lebih maju dari bangsa-bangsa lain, maka bangsa lain itu
mengikuti mereka secara membuta-tuli, karena terpikat oleh keuntungan-keuntungan
duniawi yang dijamin oleh mereka.

Jadi, bangsa-bangsa Kristen menyesatkan bangsa-bangsa lain di dunia, bukan saja dengan
pengertian yang salah tentang Putra Allah dan Penebusan dosa, melainkan pula dengan
cita-cita mengejar-ngejar kebendaan secara membuta-tuli, dengan mengabaikan sama
sekali nilai-nilai hidup yang lebih tinggi. Oleh karena itu, dalam Hadits, mereka diberi
nama Dajjal, atau penipu ulung. Bab 05 : YA’JUJ WA-MA’JUJ MENURUT KITAB BIBLE
Dalam kitab Bible, Ya’juj wa-Ma’juj diuraikan dengan kata-kata yang amat jelas,
sehingga tak diragukan lagi siapa Ya’juj dan Ma’juj itu.

Dalam Kitab Yehezkiel 38:1-4, diterangkan sbb:
“Dan lagi datanglah firman Tuhan kepadaku, bunyinya: Hai anak Adam! Tujukkanlah
mukamu kepada Juj dan tanah majuj, raja Rus, Masekh dan Tubal, dan bernubuatlah akan
halnya. Katakanlah: Demikianlah firman Tuhan Hua. Bahwasanya Aku membalas
kepadamu kelak, hai Juj, raja Rus, masekh dan Tubal. Dan kubawa akan dikau
berkeliling dan kububuh kait pada rahangmu … ”

Di sini Juj diuraikan seterang-terangnya, dan Juj di sini adalah sama dengan Ya’juj dalam
Al-Qur’an. Dia dikatakan sebagai raja Rusia, Moscow dan Tubal. Adapun Majuj (Ma’juj),
hanya dikatakan “tanah Ma’juj”.

Tiga nama yang disebutkan dalam kitab Bible ialah: Rus atau Rusia, Masekh atau
Moscow, dan Tubal atau Tobolsk. Rusia adalah nama negara, sedangkan Omask dan
Tubal adalah nama dua sungai di sebelah Utara pegunungan Kaukasus. Pada sungai
Omask terletak kota Moscow, dan pada sungai Tubal terletak kota Tobolsk; dua-duanya
merupakan kota Rusia yang termasyur. Mengingat terangnya gambaran ini, maka tak
diragukan lagi siapa Ya’juj itu.

Jadi terang sekali bahwa Juj ialah Russia, tempat kediaman bangsa Slavia. Adapun Ma’juj
adalah negara itu juga. Jadi di satu fihak, Juj dikatakan sebagai raja Rusia, di lain fihak, ia
digambarkan mendiami tanah Majuj. Rusia terletak di Eropa. Penduduk Eropa terdiri dari
dua pokok suku-bangsa, yaitu Slavia dan Teutonia. Bangsa Teutonia meliputi bangsa
Britis dan bangsa Jerman. Ini menunjukkan seterang-terangnya bahwa Juj adalah nama
bangsa-bangsa Eropa Timur (Slavia), sedangkan Majuj adalah nama bangsa-bangsa
Eropa Barat, yaitu bangsa Teutonia.

Dan terang pula bahwa dua bangsa ini mula-mula sekali mendiami tanah yang sama.
Boleh jadi, Juj dan Majuj adalah nama atau julukan nenek-moyang dua bangsa ini. Hal
ini dibuktikan adanya kenyataan bahwa patung Ya’juj dan ma’juj itu sejak zaman dahulu
sudah berdiri di depan Guildhall di London yang termasyur. Jika dua nama itu tak ada
hubungannya dengan nenek-moyang bangsa-bangsa ini, mengapa patung mereka itu
dipasang di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat ?

Berdasarkan keterangan tersebut dalam kitab Bible ditambah dengan bukti sejarah yang
dilengkapi dengan dua patung di London, sudah dapat dipastikan bahwa Ya’juj wa-Ma’juj
bukanlah nama khayalan, melainkan nama dua suku bangsa yang mendiami Benua
Eropa, dan yang seluruhnya menutupi dataran Eropa. Menilik tanda-tanda yang terang
tentang identitas bangsa-bangsa itu, maka apa yang diuraikan dalam Al-Qur’an bahwa
Ya’juj wa-Ma’juj akan mengalir dari tiap-tiap tempat tinggi, ini tak dapat diartikan lain
selain bahwa bangsa-bangsa Eropa akan menguasai seluruh muka bumi.

Bahkan kalimat “kulli hadabin” yang artinya tiap-tiap tempat tinggi ini menunjukkan, bahwa mereka bukan saja unggul dalam bidang fisik, melainkan pula dalam bidang
intelektuil, sehingga bangsa-bangsa lain di dunia bukan saja diperbudak jasmaninya,
melainkan pula rohaninya. Jadi, Al-Qur’an memberi gambaran yang nyata kepada kita
tentang merajalelanya kekuasaan politik dan kebudayaan Eropa di seluruh dunia, dan
runtuhnya ummat Islam pada akhir zaman; kenyataan ini memang aneh, tetapi ini
membuktikan seterang-terangnya akan kebenaran Islam.

Bab 06 : DAJJAL MENURUT Al-HADITS
Ada beberapa masalah penting yang harus diingat sehubungan dengan gambaran Dajjal
yang termuat dalam Al-Hadits. Yang pertama ialah bahwa ramalan Nabi Muhammad
SAW tentang munculnya Dajjal itu didasarkan atas kasyaf (visiun). Sebuah Hadits sahih
dari Nawas bin Sam’an mengenai Dajjal, yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidhi,
terdapat kata-kata sbb:

“Seakan-akan ia (Dajjal) mirip dengan “Abdul-‘Uzza”. Kata seakan-akan ini terang sekali
menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW menggambarkan keadaan yang beliau lihat
dalam visiun (kasyaf); hal ini memberi keyakinan kepada kita bahwa ramalan beliau
mengenai Dajjal itu berasal dari kasyaf atau ru’yah. Tetapi pada waktu menceritakan
ramalan-ramalan itu, biasanya tak diterangkan bahwa kenyataan itu dilihat dalam kasyaf
atau ru’yah.

Apa-apa yang dilihat dalam ru’yah (kasyaf) itu biasanya harus ditafsirkan. Al-Qur’an
sendiri menceritakan beberapa impian, yang artinya berlainan sekali dengan arti
kalimatnya. Misalnya, dalam mimpi Nabi Yusuf melihat matahari, bulan dan sebelas
bintang bersujud kepada beliau. Tetapi arti impian ini yang sesungguhnya ialah bahwa
Allah akan menaikkan derajat dan kedudukan beliau.

Selanjutnya dalam mimpi Raja melihat tujuh ekor sapi kurus menelan tujuh ekor sapi
gemuk. Adapun artinya ialah simpanan gandum selama tujuh tahun musim baik akan
habis dimakan dalam tujuh tahun musim kering.

Dalam Hadits juga diriwayatkan impian Nabi Muhammad yang artinya berlainan sekali
dengan kejadian yang dilihat dalam mimpi. Misalnya, dua gelang yang beliau lihat dalam
mimpi, artinya, dua nabi palsu; tangan panjang artinya dermawan. Selain itu, pada
umumnya orang mengakui bahwa ramalan-ramalan itu dibungkus dengan kalam ibarat.

Oleh karena itu, apa yang nomor satu harus diingat sehubungan dengan ramalan-ramalan
tentang Dajjal, ialah bahwa ramalan itu penuh dengan kalam ibarat. Selanjutnya, karena
ramalan itu tak berhubungan dengan Hukum Syari’at, maka akan mengalami dua macam
kesukaran.

Pertama, orang-orang yang menceritakan ramalan itu kurang begitu hati-hati terhadap
penyimpanan sabda yang diucapkan oleh Nabi Muhammad SAW mengenai masalah ini,
seperti hati-hati mereka terhadap penyimpanan sabda beliau mengenai Hukum Syari’at.
Kedua, oleh karena tak ada alat untuk mengetahui arti yang sebenarnya dari ramalan itu,
sebelum ini menjadi kenyataan, maka tak jarang terjadi bahwa ucapan Nabi Muhammad
SAW itu keliru ditangkapnya, sehingga kesan yang keliru ini mengakibatkan adanya
penambahan dan perubahan dalam Hadits itu.
Bab 07 : KEMENANGAN GEREJA ITU SAMA DENGAN FITNAHNYA DAJJAL
MENURUT AL-QUR’AN DAN AL-HADITS
Sebagaimana kami terangkan di muka, Al-Qur’an tak menyebutkan nama Dajjal secara
khusus. Tetapi dalam Hadits sahih diterangkan bahwa barang siapa membaca surat al-
Kahfi, ia akan diselamatkan dari fitnahnya Dajjal, padahal surat ini khusus membahas
agama Nasrani dan ajarannya yang palsu. Terutama sekali sepuluh ayat pertama dan
sepuluh ayat terakhir dari surat ini, khusus dibahas kepercayaan dan kegiatan bangsa-
bangsa Kristen. Ini menunjukkan seterang-terangnya bahwa rnenurut Al-Qur’an,
f’itnahnya Dajjal itu hanya sebutan lain saja bagi kemenangan agama Nasrani. Dengan
perkataan lain, apa yang digambarkan dalam Hadits sebagai fitnahnya Dajjal itu tiada lain
hanyalah kemenangan agama Nasrani.

Dengan suara bulat semua kitab Hadits mengumumkan bahwa fitnahnya Dajjal adalah
fitnah yang paling besar, sampai-sampai kaum Muslimin diajarkan agar pada tiap-tiap
shalat berdo’a kepada Allah untuk diselamatkan dari fitnahnya Dajjal: “Ya Allah, aku
mohon perlindungan Dikau dari fitnahnya Masih ad-Dajjal”. Selanjutnya diterangkan
pula dalam Hadits bahwa setiap Nabi memperingatkan ummatnya terhadap fitnahnya
Dajjal. Dalam Hadits dinyatakan seterang-terangnya sbb:

“Tak ada fitnah yang lebih besar daripada fitnahnya Dajjal, sejak terciptanya Adam
hingga Hari Kiamat”.

Semua kitab Hadits sama pendapatnya tentang hal ini, dan peringatan ini diulang berkali-
kali dalam berbagai bentuk kalimat. Oleh karena itu timbullah pertanyaan, mengapa Al-
Qur’an tak membicarakan peristiwa yang digambarkan dengan tegas oleh Nabi
Muhammad SAW sebagai fitnah yang paling besar?

Sebelum kami menjawab pertanyaan ini, baiklah kami periksa labih dahulu sifat dua
macam fitnah yang kaum Muslimin diperingatkan akan terjadi pada akhir zaman.
Pertama tentang fitnahnya Ya’juj wa-Ma’juj, ini diuraikan seterang-terangnya, baik dalam
Al-Qur’an maupun dalam Hadits; akan tetapi Al-Qur-an tak menerangkan tentang Dajjal,
melainkan sebagai penggantinya, Al-Qur’an hanya menerangkan fitnah besar berupa
ajaran Kristen tentang Ketuhanan nabi ‘Isa. Dengan kata-kata yang tegas, Al-Qur’an
mencela ajaran ini sebagai fitnah yang paling besar bagi manusia:

“Langit hampir-hampir pecah dan bumi membelah dan gunung-gunung runtuh berkeping-
keping, karena mereka mengakukan seorang putra kepada Tuhan Yang Maha-pemurah”
(19:90-91)

Selanjutnya Al-Qur’an menerangkan, bahwa ajaran semacam itu tak pernah diajarkan
oleh nabi ‘Isa. bahkan sebenarnya, ajaran itu bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh nabi ‘Isa.

“Tatkala Allah berfirman: Wahai ‘Isa anak Maryam, apakah engkau berkata kepada
manusia ambillah aku dan ibuku sebagai Tuhan selain Allah ? la (‘Isa) berkata: Maha suci
Engkau, tak pantas bagiku mengatakan sesuatu yang aku tak berhak mengatakan itu…
Aku tak berkata kepada mereka selain apa yang Engkau perintahkan kepadaku, yakni
mengabdilah kepada Allah, Tuhanku dan Tuhan kamu” (5:116-117).

Jadi menurut Al-Qur’an, ajaran tentang Ketuhanan nabi ‘Isa tak diajarkan oleh beliau,
melainkan diajarkan oleh Anti-christ atau Dajjal. Walaupun Al-Qur’an tak menyebut-
nyebut nama Dajjal, namun Al-Qur’an membicarakan ajaran Dajjal yang sesat berupa
ajaran Kristen tentang Putra Allah.

Jika kami memperhatikan Hadits yang bersangkutan, inipun membenarkan apa yang
tersebut di atas. Dalam hubungan ini, hal yang mula-pertama menarik perhatian kami
ialah, bahwa Hadits yang menerangkan turunnya al-Masih, hampir semuanya
memikulkan satu tugas kepada beliau, yakni “mematahkan kayu palang” (yaksirus-
saliba).

Jarang sekali Hadits yang menerangkan, bahwa beliau ditugaskan untuk membunuh
Dajjal. Hal ini memang aneh jika diingat bahwa menurut Hadits, fitnahnya Dajjal itu
fitnah yang paling besar di dunia. Fitnah ini hanya akan disingkirkan oleh tangan Masih-
Mau’ud. Akan tetapi pada waktu membicaraka turunnya al-Masih, Hadits hanya
menerangkan bahwa tugas beliau yang paling besar ialah mematahkan kayu palang; ini
menunjukkan seterang-terangnya bahwa mematahkan kayu palang adalah sama artinya
dengan membunuh Dajjal.

Sungguh mengesankan sekali bahwa manakala Hadits menerangkan fitnah zaman akhir,
maka fitnah yang paling besar adalah fitnahnya Dajjal; tetapi manakala Hadits
menerangkan obat yang dapat memberantas fitnah itu, maka hanya disebut patahnya kayu
palang. Mengingat bahwa tugas utama Masih-Mau’ud ialah mematahkan kayu palang,
maka teranglah bahwa fitnahnya Dajjal dan merajalelanya agama Kristen adalah, dua
sebutan belaka bagi satu idee yang sama.

Bab 08 : MENGAPA DAJJAL DISEBUT AL-MASIH
Sebenarnya jika orang mau berpikir sejenak saja, pasti akan menemukan kebenaran,
mengapa Dajjal disebut Masihid-Dajjal. Mengapa Dajjal disebut al-Masih? Karena Dajjal
selalu menunaikan tugasnya atas nama “al-Masih”, yang julukan ini diberikan oleh Allah
kepada nabi ‘Isa berdasarkan wahyu-Nya. Diberikannya julukan al-Masih kepada Dajjal
menunjukkan, bahwa Dajjal akan menunaikan pekerjaan atas nama orang suci ini, dan
inilah sebenarnya yang menyebabkan dia disebut Dajjal atau penipu, karena ia
menggunakan nama “al-Masih”, seorang Nabi dan hamba Allah yang tulus, tetapi ia
berbuat sesuatu yang bertentangan sama sekali dengan ajaran beliau.

Al-Masih ‘Isa mengajarkan bahwa Allah itu Esa, dan tak ada Tuhan selain Dia yang wajib disembah; tetapi Dajjal mengangkat nabi ‘Isa itu sendiri sebagai Tuhan. Selanjutnya, al-
Masih ‘Isa mengajarkan bahwa semua Nabi adalah hamba Allah yang tulus, tetapi Dajjal
mengutuk semua Nabi yang suci sebagai orang berdosa. Mengapa demikian ? Karena jika
para Nabi Utusan Allah ini tak dikutuk sebagai orang berdosa, maka tak perlu timbul
Putra Allah yang tak berdosa, untuk menebusi dosa sekalian manusia.

Selanjutnya, al-Masih ‘Isa mengajarkan bahwa setiap orang akan mendapat ganjaran atau
hukuman sesuai perbuatan yang ia lakukan, tetapi Dajjal yang berkedok al-Masih
mengajarkan bahwa Putra Allah sudah cukup menebusi dosa ummat Kristen. Al-Masih
‘Isa mengajarkan bahwa orang kaya tak dapat masuk dalam kerajaan Surga, tetapi Dajjal
yang mengaku-ngaku al-Masih mengajarkan supaya manusia menumpuk-numpuk
kekayaan. Singkatnya, kitab-kitab Hadits menggunakan julukan “Al-Masihid Dajjal”
hanyalah untuk menjelaskan, bahwa Dajjal adalah nama lain belaka bagi agama Kristen
sekarang ini. Nama Al-Masih dan agama al-Masih hanyalah digunakan sebagai kedok
untuk menutupi penipuan (dajala) yang ada di belakang itu.

Bab 09 : HADITS TENTANG DAJJAL
Hadits tentang Dajjal adalah banyak sekali, dan diriwayatkan oleh sejumlah besar
Sahabat Nabi, sehingga tak perlu dipersoalkan lagi tentang mutawatir-nya; walaupun
masih perlu dipersoalkan tentang terpenuhinya ramalan itu secara terperinci. Hadits-
hadits itu termuat dalam kitab-kitab Hadits yang amat sahih, bahkan yang termuat dalam
kitab Bukhari dan Muslim tak sedikit jumlahnya.

Hadits tentang Dajjal yang termuat dalam Musnad Imam Ahmad bin Hambal berjumlah
seratus, dan di antara yang meriwayatkan Hadits; terdapat sahabat kenamaan, seperti
sayyidina Abubakar, ‘Ali, Siti ‘Aisyah, Sa’d bin Abi Waqqas; Abdullah bin Abbas,
Abdullah bin ‘Umar, Abdullah bin ‘Amr, Abu Hurairah, Abu Said Khudri, Anas bin
Malik, Jabir, Hisyam bin Amir, Samrah bin Jundab, Ubayya bin Ka’b, Safinah, Imran bin
Husain, Nawas bin Sam’an, Ummu Syarik, Fatimah binti Qais, Ubadah bin Samit, Abu
Ubaidah bin Al-Jarrah, Asma’ binti Yazid, dan Mughirah bin Syu’bah.

Masih banyak Sahabat lagi yang meriwayatkan Hadits tentang Dajjal. Para Sahabat ini
semua sependapat bahwa Nabi Muhammad SAW berulang-ulang menceritakan Dajjal,
hingga tak perlu diragukan lagi tentang adanya kenyataan bahwa sumber yang
mengalirkan ramalan itu adalah Nabi Muhammad SAW sendiri.
Bab 10 : APAKAH DAJJAL ITU ORANG ATAUKAH BANGSA ?
Memang benar bahwa kebanyakan Hadits menggambarkan seakan-akan Dajjal itu orang
yang bermata satu, yang di dahinya terdapat tulisan Arab yang terdiri dari huruf kaf, fa’
dan ra’ (atau kafara, artinya kafir), dan yang membawa keledai, sungai dan api. Tetapi
jika Hadits-hadits itu kita cocokkan dengan uraian Al-Qur’an, maka akan nampak dengan
jelas, bahwa Dajjal bukanlah nama orang, melainkan suatu bangsa, atau lebih tepat lagi,
segolongan bangsa.

Dengan tegas Al-Qur’an mempersamakan Dajjal dengan bangsa-bangsa Kristen, dan lagi, Al-Qur’an menyatakan bahwa Dajjal dan Ya’juj wa-Ma’juj bukanlah dua jenis makhluk
yang berlainan, karena fitnah yang ditimbulkan oleh mereka itu disebutkan bersama-
sama.

Kami juga mempunyai bukti dari kitab Bible yang menerangkan, bahwa Ya’juj wa-Ma’juj
adalah bangsa-bangsa Eropa. Dengan demikian teranglah bahwa Dajjal juga berarti
bangsa. Sebagaimana telah kami terangkan di muka, fitnah Dajjal itu bersumber pada
menangnya agama Kristen.

Ada sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang membuktikan bahwa
Dajjal itu bukan orang melainkan bangsa, sebagaimana Roma dan Persi yang diuraikan
dalam Hadits itu bukanlah tempat melainkan bangsa. Hadits itu berbunyi sbb:

“Rasulullah SAW bersabda: Kamu akan bertempur dengan Jazirah Arab, dan Allah akan
memberi kemenangan kepada kamu, lalu kamu akan bertempur dengan Persi, dan Allah
akan memberi kemenangan kepada kamu; lalu kamu akan bertampur dengan Roma, dan
Allah akan memberi kemenangan kepada kamu; lalu kamu akan bertempur dengan
Dajjal, dan Allah akan memberi kemenangan kepada kamu”.

Di sini pertempuran dengan Dajjal diuraikan dengan kalimat yang sama seperti
pertempuran dengan Arab, Persi dan Roma. Ini menunjukkan bahwa Dajjal adalah
bangsa, seperti halnya Arab, Persi dan Roma. Boleh jadi yang diisyaratkan di sini ialah
Perang Salib, tetapi mungkin pula mengisyaratkan peristiwa yang terjadi di dunia pada
zaman sekarang. Namun satu hal sudah pasti, yakni bahwa menurut Hadits ini, Dajjal
berarti bangsa atau segolongan bangsa; seperti halnya Persi atau Roma.

Tetapi masih saja harus dijelaskan, mengapa dalam Hadits dijelaskan seakan-akan Dajjal
itu orang. Sebagaimana telah kami terangkan, semua ramalan Nabi Suci itu didasarkan
pada ru’yah atau kasyaf (visiun), dan dalam ru’yah atau kasyaf, suatu bangsa hanya
digambarkan sebagai orang-seorang. Sebenarnya, bangsa itu dikenal dari ciri-cirinya; dan
dalam ru’yah, ciri-ciri ini hanya dapat diperlihatkan dalam bentuk orang-seorang. Bahkan
dalam bahasa sehari-hari, bangsa itu diajak bicara bagaikan orang. Misalnya, Al-Qur’an
mengajak bicara bangsa Israil, seakan-akan bangsa Israil itu orang. Bacalah misalnya,
ayat Al-Qur’an berikut ini:

“Wahai kaum Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang Aku berikan kepada kamu, dan
bahwa Aku memuliakan kamu di atas sekalian bangsa” (2:47).

Kaum Bani Israil yang diperingatkan di sini ialah mereka yang hidup pada zaman Nabi
Muhammad SAW, tetapi peristiwa yang dimaksud ialah yang terjadi pada zaman nabi
Musa, atau beberapa abad sesudah beliau. Kenikmatan yang teruraikan dalam ayat ini
telah diberikan, kepada kaum Bani Israil zaman dahulu, tetapi ayat Al-Qur’an ini
ditujukan kepada kaum Bani Israil zaman sekarang yang sedang dalam keadaan hina dan
suram. Tetapi seluruh kaum Bani Israil ini dikatakan bagaikan satu orang.

Demikianlah seluruh bangsa Dajjal diperlihatkan kepada Nabi Muhammad SAW dalam ru’yah bagaikan satu orang, padahal Dajjal seperti yang digambarkan oleh Al-Qur’an
menunjukkan bahwa Dajjal adalah segolongan bangsa yang ciri-ciri khasnya sudah
dikenal.
Bab 11 : GAMBARAN DAJJAL MENURUT AL-HADITS
Segala macam keistimewaan yang kami lihat pada peradaban Barat sekarang ini,
semuanya cocok dengan ciri-ciri Dajjal yang dilihat oleh Nabi Muhammad SAW dalam
ru’yah. Memang benar bahwa bangsa-bangsa ini mempunyai sedikit perbedaan satu sama
lain, tetapi ada satu hal yang semuanya sama. Dan ciri yang sama inilah yang
digambarkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam memberi gambaran tentang Dajjal.

Kami hanya akan mengutip Hadits-hadits yang menguraikan ciri-ciri Dajjal. Marilah kita
mulai dengan Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari :

1. “Dan aku melihat orang yang berambut ikal pendek, yang mata-kanannya buta Aku
bertanya: Siapakah ini? Lalu dijawab, bahwa ia adalah Masihid – Dajjal” (Bukhari
77:68,92)

2. “Awas! dia pecak (buta sebelah)… dan diantara dua matanya, tertulis ‘Kafir’…”
(Bukhari 93:27).

Dari gambaran tersebut dapatlah kami catat:
1. Bahwa mengenai bentuknya, Dajjal digambarkan berbadan kekar.
2. Bahwa roman-mukanya putih dan mengkilat.
3. Bahwa rambut kepalanya pendek dan ikal.

Tiga gambaran ini cocok sekali derigan bentuk orang-orang Eropa pada umumnya.
Mereka itu pada umumnya berbadan kekar; bertubuh baik dan kuat; rambutnya pendek
dan ikal, sampai-sampai wanitanya pun memotong pendek rambutnya; kulit mereka putih
dan mengkilat. Jadi, gambaran tentang ciri-ciri Dajjal tersebut, cocok sekali dengan
perwujudan orang-orang Eropa.

Adapun dua ciri lainnya, yakni, bahwa mata kanan Dajjal buta, dan pada dahinya tertulis
kaf, fa’dan ra’ atau kaflr, ini menggambarkan keadaan rohani Dajjal yang sebenarnya.
Sebagaimana telah kami terangkan, Dajjal menggambarkan suatu bangsa. Sebagai
bangsa, tak mungkin semuanya buta mata jasmaninya.

Selain itu, Dajjal yang digambarkan buta mata kanannya, mata-kiri Dajjal digambarkan
bersinar gemerlapan bagaikan bintang. Dengan perkataan lain, mata-kanan Dajjal
digambarkan hilang cahayanya, tetapi mata-kirinya bersinar terang. Penjelasan yang
diberikan oleh Imam Raghib tentang mata Dajjal yang buta sebelah kanannya, sungguh
ilmiyah sekali. Pada waktu menjelaskan arti kata al-Masih, beliau menerangkan bahwa
kata masaha berarti menghapus sesuatu, lalu beliau menambahkan keterangan sbb:

“Diriwayatkan bahwa mata-kanan Dajjal hilang penglihatannya, sedangkan nabi ‘Isa
mata-kiri beliaulah yang hilang penglihatannya; dan ini berarti bahwa Dajjal tak
mempuyai sifat-sifat akhlak tinggi, seperti misalnya kearifan, kebijaksanaan dan rendah hati; sedangkan nabi ‘Isa tak mempunyai kejahilan, keserakahan, kerakusan dan
sebagainya yang termasuk jenis akhlak yang rendah”.

Jadi, gambaran Dajjal buta mata-kanannya janganlah ditafsirkan secara harfiyah,
melainkan secara kalam ibarat, yakni harus diartikan bahwa Dajjal tak mempunyai akhlak
yang baik.

Bahwa dua mata manusia itu, yang satu digunakan untuk melihat hal-hal yang
berhubungan dengan kerohanian dan agama, dan yang satu lagi digunakan untuk melihat
hal-hal yang berhubungan dengan kebendaan dan keduniaan. Oleh karena hal-hal yang
berhubungan dengan agama dan kerohanian itu lebih tinggi kedudukannya daripada hal-
hal yang berhubungan dengan kebendaan dan keduniaan, maka buta mata kanan Dajjal
berarti bahwa Dajjal sedikit sekali perhatiannya terhadap hal-hal yang berhubungan
dengan agama atau kerohanian, dan ini cocok sekali dengan apa yang dialami oleh
bangsa-bargsa Eropa sekarang ini.

Seluruh parhatian mereka ditujukan kepada hal-hal yang berhubungan dangan kebendaan
dan keduniaan dan kemajuan mereka dalam bidang ini tak ada bandingannya. Inilah yang
dimaksud dengan apa yang diuraikan dalam Hadits, bahwa mata-kiri Dajjal bersinar
gemerlapan bagaikan bintang. Artinya, Dajjal mampu melihat segala macam barang-
barang duniawi, yang bangsa-bangsa lain tak mempunyai pengertian tentang itu. Tetapi
mata rohani Dajjal tak mempunyai penglihatan yang tajam, karena semua kekuatan Dajjal
dihabiskan guna kepentingan urusan duniawi. Sukses Dajjal yang tak ada taranya dalam
urusan duniawi mengakibatkan buta sebelah. Penjelasan ini sungguh mengagumkan dan
cocok sekali dengan apa yang dikatakan oleh Al-Qur’an tentang bangsa-bangsa Kristen:

“Orang-orang yang usahanya menderita rugi dalam kehidupan dunia, dan mereka
mengira bahwa mereka amat pandai dalam membuat barang-barang” (18:104)

Hadits Nabi melukiskan hal ini dengan kalam ibarat, bahwa mata kiri Dajjal, yaitu, mata-
duniawi bersinar gemerlapan bagaikan bintang. Adapun keadaan rohani bangsa-bangsa
Dajjal Allah berfirman sbb:

“Mereka adalah orang-orang yang mengkafiri ayat Tuhan, dan (mengakhiri) perjumpaan
dengan Dia” (18 : 105).

Hadits Nabi menjelaskan hal ini dengan caranya sendiri, yaitu, bahwa mata-kanan Dajjal
tak mempunyai kekuatan untuk melihat ayat Tuhan.

Tanda Dajjal yang lain, yakni tulisan kafara atau kafir pada dahinya ini berkenaan pula
dengan keadaan rohaninya. Jika orang berkata, bahwa pada dahi seseorang terdapat
tulisan anu, ini sama artinya dengan mengatakan, bahwa anu itu adalah fakta senyata-
nyatanya bagi dia. Maka dari itu, uraian Hadits bahwa pada dahi Dajjal terdapat tulisan
kafir, ini hanyalah berarti bahwa kekafiran itu merupakan kenyataan yang senyata-
nyatanya bagi dia.
Kata-kata Hadits itu sendiri sudah menerangkan; bahwa demikian itulah nyatanya.
Pertama-tama, Hadits menerangkan bahwa tiap-tiap mukmin dapat membaca tulisan itu;
jadi bukan tiap-tiap orang dapat membaca tulisan itu. Lalu ditambahkan kata penjelasan
tentang orang mukmin itu, yakni, “baik ia buta huruf atau mengerti tulis menulis.”
Artinya, tiap-tiap orang mukmin dapat memahami tulisan itu, baik ia mengerti tulis-
menulis atau tidak.

Sudah terang, bahwa tulisan yang dapat dibaca oleh tiap-tiap orang mukmin, baik ia
mengerti tulis-menulis atau buta huruf, tak mungkin berwujud kata-kata atau huruf. Jika
tulisan itu berwujud kata-kata atau huruf, niscaya tak dipersoalkan lagi apakah
pembacanya mukmin atau kafir, demikian pula tak perlu dinyatakan bahwa orang
mukmin dapat membaca tulisan itu sekalipun ia buta-huruf.

Kepandaian membaca tulisan, tak ada sangkut pautnya dengan urusan iman. Setiap orang
yang tak buta huruf pasti dapat membaca tulisan, sedangkan orang buta huruf, sekalipun
ia orang mukmin sejati, ia tetap tak dapat membaca tulisan. Oleh karena itu, tulisan yang
dimaksud bukanlah tulisan biasa, melainkan menifestasinya perbuatan seseorang.
Pernyataan bahwa tulisan itu hanya dapat dibaca oleh orang mukmin saja, ini berarti,
bahwa orang kafir tak pernah sadar akan kekafirannya, sehingga membutuhkan mata
orang mukmin untuk membaca buruknya kekafiran mereka.

Dajjal, Ya’juj dan Ma’juj

BAB I Arti Dajjal dan Ya’juj wa Ma’juj
======================================

Dajjal disebutkan berulang-ulang dalam Hadits, sedangkan Ya’juj wa-Ma’juj bukan saja disebutkan dalam Hadits, melainkan pula dalam Al-Qur’an. Dan kemunculannya yang
kedua kalinya ini dihubungkan dengan turunnya Al-Masih.

Kata Dajjal berasal dari kata dajala, artinya, menutupi (sesuatu). Kamus Lisanul-‘Arab
mengemukakan beberapa pendapat mengapa disebut Dajjal. Menurut suatu pendapat, ia
disebut Dajjal karena ia adalah pembohong yang menutupi kebenaran dengan kepalsuan.
Pendapat lainnya mengatakan, karena ia menutupi bumi dengan bilangannya yang besar.
Pendapat ketiga mengatakan, karena ia menutupi manusia dengan kekafiran. Keempat,
karena ia tersebar dan menutupi seluruh muka bumi.

Pendapat lain mengatakan, bahwa Dajjal itu bangsa yang menyebarkan barang
dagangannya ke seluruh dunia, artinya, menutupi dunia dengan barang dagangannya. Ada
juga pendapat yang mengatakan, bahwa ia dijuluki Dajjal karena mengatakan hal-hal
yang bertentangan dengan hatinya, artinya, ia menutupi maksud yang sebenarnya dengan
kata-kata palsu.

Kata Ya’juj dan Ma juj berasal dari kata ajja atau ajij dalam wazan Yaf’ul; kata ajij
artinya nyala api. Tetapi kata ajja berarti pula asra’a, maknanya berjalan cepat. Itulah
makna yang tertera dalam kamus Lisanul-‘Arab. Ya’juj wa-Ma’juj dapat pula diibaratkan
sebagai api menyala dan air bergelombang, karena hebatnya gerakan.

Bab 02 : DAJJAL DAN YA’JUJ WA-MA’JUJ MENURUT AL-QUR’AN
Kata Dajjal tak tertera dalam Al-Qur’an, tetapi dalam Hadits sahih diterangkan, bahwa
sepuluh ayat pertama dan sepuluh ayat terakhir dari surat al-Kahfi melindungi orang dari
fitnahnya Dajjal, jadi menurut Hadits ini, Al-Quran memberi isyarat siapakah Dajjal itu.
Mengenai hal ini diterangkan dalam Kitab Hadits yang amat sahih sebagai berikut:

“Barang siapa hapal sepuluh ayat pertama Surat Al-Kahfi, ia akan selamat dari
(fitnahnya) Dajjal.”

“Barang siapa membaca sepuluh ayat terakhir dari surat Al-Kahfi, ia akan selamat dari
(fitnahnya) Dajjal.”

Boleh jadi, dalam menyebut sepuluh ayat pertama dan sepuluh ayat terakhir, itu yang
dituju ialah seluruh surat Al-Kahfi yang melukiskan ancaman Nasrani yang beraspek dua,
yang satu bersifat keagamaan, dan yang lain bersifat keduniaan. Bacalah sepuluh ayat
pertama dan sepuluh ayat terakhir surat Al-Kahfi, anda akan melihat seterang-terangnya
bahwa yang dibicarakan dalam dua tempat itu adalah ummat Nasrani.

Mula-mula diuraikan aspek keagamaan, yang dalam waktu itu Nabi Muhammad
dikatakan sebagai orang yang memberi peringatan umum kepada sekalian manusia (ayat
2), lalu dikatakan sebagai orang yang memberi peringatan khusus kepada ummat Nasrani
(ayat 4), yaitu ummat yang berkata bahwa Allah memungut Anak laki-laki. Demikianlah bunyinya:

“Segala puji kepunyaan Allah Yang menurunkan Kitab kepada hamba-Nya …, … agar ia
memberi peringatan tentang siksaan yang dahsyat dari Dia… dan ia memperingatkan
orang-orang yang berkata bahwa Allah memungut anak laki-laki.” (18:1-4).

Terang sekali bahwa yang dituju oleh ayat tersebut ialah ummat Nasrani, yang ajaran
pokok agamanya ialah Tuhan mempunyai Anak laki-laki. Dalam sepuluh ayat terakhir
surat Al-Kahfi diuraikan seterang-terangnya, bahwa ummat Nasrani mencapai hasil
gemilang di lapangan duniawi. Demikianlah bunyinya :

“Apakah orang-orang kafir mengira bahwa mereka dapat mengambil hamba-Ku sebagai
pelindung selain Aku?… Katakan Apakah Kami beritahukan kepada kamu orang-orang
yang paling rugi perbuatannya? (Yaitu) orang yang tersesat jalannya dalam kehidupan
dunia, dan mereka mengira bahwa mereka adalah orang yang mempunyai keahlian dalam
membuat barang-barang.” (18: 102-104).

Ini adalah gambaran tentang bangsa-bangsa Barat yang diramalkan dengan kata-kata
yang jelas. Membuat barang adalah keahlian dan kebanggaan ummat Nasrani, dan ciri-
khas inilah yang dituju oleh ayat tersebut. Mereka berlomba-lomba membuat barang-
barang, dan mereka begitu sibuk datam urusan ini, sehingga penglihatan mereka akan
nilai-nilai kehidupan yang tinggi, menjadi kabur sama sekali. Membuat barang-barang,
sekali lagi membuat barang-barang, adalah satu-satunya tujuan hidup mereka di dunia.
Jadi, sepuluh ayat pertama dan sepuluh ayat terakhir surat Al-Kahfi menerangkan dengan
jelas bahayanya ajaran Kristen tentang Putra Allah, dan tentang kegiatan bangsa-bangsa
Kristen di lapangan kebendaan, dan inilah yang dimaksud dengan fitnahnya Dajjal.

Ya’juj wa-Ma’juj diuraikan dua kali dalam Al-Quran. Yang pertama diuraikan dalam
surat al-Kahfi, sehubungan dengan uraian tentang gambaran Dajjal. Menjelang
berakhimya surat al-Kahfi, diuraikan tentang perjalanan Raja Dhul-Qarnain* ke berbagai
jurusan untuk memperkuat tapal-batas kerajaannya.

Ternyata bahwa menurut sejarah, raja ini ialah raja Persi yang bernama Darius I.
Diterangkan dalam surat tersebut, bahwa perjalanan beliau yang pertama, berakhir di laut
Hitam. “Sampai tatkala ia mencapai ujung yang paling Barat, ia menjumpai matahari
terbenam dalam sumber yang berlumpur hitam.” (18:86). Ternyata bahwa yang dimaksud
sumber yang berlumpur hitam ialah Laut Hitam.

Selanjutnya diuraikan dalam surat tersebut, kisah perjalanan beliau ke Timur “Sampai
tatkala ia mencapai tempat terbitnya matahari, ia menjumpai matahari terbit di atas kaum
yang tak Kami beri perlindungan dari (matahari) itu” (18:90). Selanjutnya diuraikan
tentang perjalanan beliau ke Utara. “Sampai tatkala ia mencapai (suatu tempat) diantara
dua bukit” (18:93).

Yang dimaksud dua bukit ialah pegunungan Armenia dan Azarbaijan. Dalam perjalanan
ke Utara ini, raja Dhul-Qarnain berjumpa dengan suatu kaum yang berlainan bahasanya, artinya, mereka tak mengerti bahasa Persi. Kaum ini mengajukan permohonan kepada
raja Dhul-Oarnain sbb: “Wahai Dhul-Qarnain! Sesungguhnya Ya’juj wa-Ma’juj itu
membuat kerusakan di bumi. Bolehkah kami membayar upeti kepada engkau, dengan
syarat sukalah engkau membangun sebuah rintangan antara kami dan mereka” (18:94).

Selanjutnya Al-Qur’an menerangkan, bahwa raja Dhul-Qarnain benar-benar membangun
sebuah tembok** dan sehubungan dengan itu, Al-Qur’an menyebut-nyebut besi dan
tembaga sebagai bahan untuk membangun pintu gerbang:

“Berilah aku tumpukan besi, sampai tatkala (besi) itu memenuhi ruangan di antara dua
bukit, ia berkata: ‘Bawalah kemari cairan tembaga yang akan kutuangkan di atasnya’
(18:96). Dalam ayat 97 diterangkan, bahwa tatkala tembok itu selesai, mereka (Ya’juj wa-
Ma’juj) tak dapat menaiki itu, dan tak dapat pula melobangi itu. Dalam ayat 98, raja
Dhul-Qarnain menerangkan, bahwa bagaimanapun kuatnya, tembok ini hanya akan
berfaedah sampai jangka waktu tertentu, dan akhirnya tembok ini akan runtuh. Lalu kita
akan dihadapkan kepada peristiwa yang lain. “Dan pada hari itu, Kami akan membiarkan
sebagian mereka (Ya’juj wa-Ma’juj) bertempur melawan sebagian yang lain” (18:99).

*[Kata Dhul-Qarnain makna aslinya “mempunyai dua tanduk”, tetapi dapat berarti pula
“orang yang memerintah dua generasi”, atau, “orang yang memerintah dua kerajaan.
Makna terakhir ini diberikan oleh musafir besar Ibnu Jarir. Dalam kitab perjanjian lama,
Kitab Nabi Daniel, terdapat uraian tentang impian nabi Daniel, dimana ia melihat seekor
domba bertanduk dua. Impian itu ditafsirkan dalam al-Kitab dengan kata-kata sebagai
berikut: “Adapun domba jantan, yang telah kau lihat dengan tanduk dua pucuk, yaitu raja
Media dan Persi, (Daniel 8:20). Diantara raja Media dan Persi, yang paling cocok dengan
gambaran Al-Quran, ialah raja Darius I (521-485 sebelum Kristus).

Jewish Encyclopaedia menerangkan sbb : “Darius adalah negarawan yang ulung.
Peperangan yang beliau lakukan hanyalah dimaksud untuk membulatkan tapal-batas
kerajaannya, yaitu di Armenia, Kaukasus, India, sepanjang gurun Turania dan dataran
tinggi Asia Tengah”. Pendapat ini dikuatkan oleh Encyclopaedia Britannica sbb: “Tulisan
yang diukir dalam batu menerangkan bahwa raja Darius adalah pemeluk agama
Zaratustra yang setia. Tetapi beliau juga seorang negarawan yang besar. Pertempuran
yang beliau lakukan, hanyalah untuk memperoleh tapal-batas alam yang kuat bagi
kerajaannya, demikian pula untuk menaklukkan suku bangsa biadab di daerah perbatasan.
Jadi, raja Darius menaklukkan bangsa biadabdi pegunungan Pontic dan Atmenia,dan
meluaskan kerajaan Persia sampai Kaukasus”].

**[Rintangan atau tembok yang diuraikan disini ialah tembok yang termasyur di Derbent
(atau Darband) yang terletak di pantai Laut Kaspi. Dalam kitab Marasidil – Ittila’, kitab
ilmu-bumi yang termasyur, terdapat uraian tentang hal itu. Demikian pula dalam kitabnya
lbnu at-Faqih. Encyclopaedia Biblica menjelaskan tembok itu sbb :.Derbent atau Darband
adalah sebuah kota kerajaan Persi di Kaukasus, termasuk propinsi Daghistan, di pantai
Barat laut Kaspi… Di ujung sebelah Selatan, terletak Tembok Kaukasus yang menjulang
ke laut, yang panjangnnya 50 mil, yang disebut Tembok Alexander…Tembok ini
seluruhnya mempunyai ketinggian 29 kaki, dan tebal ± 10 kaki; dan dengan pintu gerbangnya yang dibuat dari besi, dan berpuluh-puluh menara-pengintai, merupakan
pertahanan tapal-batas kerajaan Persi yang kuat].

Bab 02 : DAJJAL DAN YA’JUJ WA-MA’JUJ MENURUT AL-QUR’AN
Kata Dajjal tak tertera dalam Al-Qur’an, tetapi dalam Hadits sahih diterangkan, bahwa
sepuluh ayat pertama dan sepuluh ayat terakhir dari surat al-Kahfi melindungi orang dari
fitnahnya Dajjal, jadi menurut Hadits ini, Al-Quran memberi isyarat siapakah Dajjal itu.
Mengenai hal ini diterangkan dalam Kitab Hadits yang amat sahih sebagai berikut:

“Barang siapa hapal sepuluh ayat pertama Surat Al-Kahfi, ia akan selamat dari
(fitnahnya) Dajjal.”

“Barang siapa membaca sepuluh ayat terakhir dari surat Al-Kahfi, ia akan selamat dari
(fitnahnya) Dajjal.”

Boleh jadi, dalam menyebut sepuluh ayat pertama dan sepuluh ayat terakhir, itu yang
dituju ialah seluruh surat Al-Kahfi yang melukiskan ancaman Nasrani yang beraspek dua,
yang satu bersifat keagamaan, dan yang lain bersifat keduniaan. Bacalah sepuluh ayat
pertama dan sepuluh ayat terakhir surat Al-Kahfi, anda akan melihat seterang-terangnya
bahwa yang dibicarakan dalam dua tempat itu adalah ummat Nasrani.

Mula-mula diuraikan aspek keagamaan, yang dalam waktu itu Nabi Muhammad
dikatakan sebagai orang yang memberi peringatan umum kepada sekalian manusia (ayat
2), lalu dikatakan sebagai orang yang memberi peringatan khusus kepada ummat Nasrani
(ayat 4), yaitu ummat yang berkata bahwa Allah memungut Anak laki-laki. Demikianlah bunyinya:

“Segala puji kepunyaan Allah Yang menurunkan Kitab kepada hamba-Nya …, … agar ia
memberi peringatan tentang siksaan yang dahsyat dari Dia… dan ia memperingatkan
orang-orang yang berkata bahwa Allah memungut anak laki-laki.” (18:1-4).

Terang sekali bahwa yang dituju oleh ayat tersebut ialah ummat Nasrani, yang ajaran
pokok agamanya ialah Tuhan mempunyai Anak laki-laki. Dalam sepuluh ayat terakhir
surat Al-Kahfi diuraikan seterang-terangnya, bahwa ummat Nasrani mencapai hasil
gemilang di lapangan duniawi. Demikianlah bunyinya :

“Apakah orang-orang kafir mengira bahwa mereka dapat mengambil hamba-Ku sebagai
pelindung selain Aku?… Katakan Apakah Kami beritahukan kepada kamu orang-orang
yang paling rugi perbuatannya? (Yaitu) orang yang tersesat jalannya dalam kehidupan
dunia, dan mereka mengira bahwa mereka adalah orang yang mempunyai keahlian dalam
membuat barang-barang.” (18: 102-104).

Ini adalah gambaran tentang bangsa-bangsa Barat yang diramalkan dengan kata-kata
yang jelas. Membuat barang adalah keahlian dan kebanggaan ummat Nasrani, dan ciri-
khas inilah yang dituju oleh ayat tersebut. Mereka berlomba-lomba membuat barang-
barang, dan mereka begitu sibuk datam urusan ini, sehingga penglihatan mereka akan
nilai-nilai kehidupan yang tinggi, menjadi kabur sama sekali. Membuat barang-barang,
sekali lagi membuat barang-barang, adalah satu-satunya tujuan hidup mereka di dunia.
Jadi, sepuluh ayat pertama dan sepuluh ayat terakhir surat Al-Kahfi menerangkan dengan
jelas bahayanya ajaran Kristen tentang Putra Allah, dan tentang kegiatan bangsa-bangsa
Kristen di lapangan kebendaan, dan inilah yang dimaksud dengan fitnahnya Dajjal.

Ya’juj wa-Ma’juj diuraikan dua kali dalam Al-Quran. Yang pertama diuraikan dalam
surat al-Kahfi, sehubungan dengan uraian tentang gambaran Dajjal. Menjelang
berakhimya surat al-Kahfi, diuraikan tentang perjalanan Raja Dhul-Qarnain* ke berbagai
jurusan untuk memperkuat tapal-batas kerajaannya.

Ternyata bahwa menurut sejarah, raja ini ialah raja Persi yang bernama Darius I.
Diterangkan dalam surat tersebut, bahwa perjalanan beliau yang pertama, berakhir di laut
Hitam. “Sampai tatkala ia mencapai ujung yang paling Barat, ia menjumpai matahari
terbenam dalam sumber yang berlumpur hitam.” (18:86). Ternyata bahwa yang dimaksud
sumber yang berlumpur hitam ialah Laut Hitam.

Selanjutnya diuraikan dalam surat tersebut, kisah perjalanan beliau ke Timur “Sampai
tatkala ia mencapai tempat terbitnya matahari, ia menjumpai matahari terbit di atas kaum
yang tak Kami beri perlindungan dari (matahari) itu” (18:90). Selanjutnya diuraikan
tentang perjalanan beliau ke Utara. “Sampai tatkala ia mencapai (suatu tempat) diantara
dua bukit” (18:93).

Yang dimaksud dua bukit ialah pegunungan Armenia dan Azarbaijan. Dalam perjalanan
ke Utara ini, raja Dhul-Qarnain berjumpa dengan suatu kaum yang berlainan bahasanya, artinya, mereka tak mengerti bahasa Persi. Kaum ini mengajukan permohonan kepada
raja Dhul-Oarnain sbb: “Wahai Dhul-Qarnain! Sesungguhnya Ya’juj wa-Ma’juj itu
membuat kerusakan di bumi. Bolehkah kami membayar upeti kepada engkau, dengan
syarat sukalah engkau membangun sebuah rintangan antara kami dan mereka” (18:94).

Selanjutnya Al-Qur’an menerangkan, bahwa raja Dhul-Qarnain benar-benar membangun
sebuah tembok** dan sehubungan dengan itu, Al-Qur’an menyebut-nyebut besi dan
tembaga sebagai bahan untuk membangun pintu gerbang:

“Berilah aku tumpukan besi, sampai tatkala (besi) itu memenuhi ruangan di antara dua
bukit, ia berkata: ‘Bawalah kemari cairan tembaga yang akan kutuangkan di atasnya’
(18:96). Dalam ayat 97 diterangkan, bahwa tatkala tembok itu selesai, mereka (Ya’juj wa-
Ma’juj) tak dapat menaiki itu, dan tak dapat pula melobangi itu. Dalam ayat 98, raja
Dhul-Qarnain menerangkan, bahwa bagaimanapun kuatnya, tembok ini hanya akan
berfaedah sampai jangka waktu tertentu, dan akhirnya tembok ini akan runtuh. Lalu kita
akan dihadapkan kepada peristiwa yang lain. “Dan pada hari itu, Kami akan membiarkan
sebagian mereka (Ya’juj wa-Ma’juj) bertempur melawan sebagian yang lain” (18:99).

*[Kata Dhul-Qarnain makna aslinya “mempunyai dua tanduk”, tetapi dapat berarti pula
“orang yang memerintah dua generasi”, atau, “orang yang memerintah dua kerajaan.
Makna terakhir ini diberikan oleh musafir besar Ibnu Jarir. Dalam kitab perjanjian lama,
Kitab Nabi Daniel, terdapat uraian tentang impian nabi Daniel, dimana ia melihat seekor
domba bertanduk dua. Impian itu ditafsirkan dalam al-Kitab dengan kata-kata sebagai
berikut: “Adapun domba jantan, yang telah kau lihat dengan tanduk dua pucuk, yaitu raja
Media dan Persi, (Daniel 8:20). Diantara raja Media dan Persi, yang paling cocok dengan
gambaran Al-Quran, ialah raja Darius I (521-485 sebelum Kristus).

Jewish Encyclopaedia menerangkan sbb : “Darius adalah negarawan yang ulung.
Peperangan yang beliau lakukan hanyalah dimaksud untuk membulatkan tapal-batas
kerajaannya, yaitu di Armenia, Kaukasus, India, sepanjang gurun Turania dan dataran
tinggi Asia Tengah”. Pendapat ini dikuatkan oleh Encyclopaedia Britannica sbb: “Tulisan
yang diukir dalam batu menerangkan bahwa raja Darius adalah pemeluk agama
Zaratustra yang setia. Tetapi beliau juga seorang negarawan yang besar. Pertempuran
yang beliau lakukan, hanyalah untuk memperoleh tapal-batas alam yang kuat bagi
kerajaannya, demikian pula untuk menaklukkan suku bangsa biadab di daerah perbatasan.
Jadi, raja Darius menaklukkan bangsa biadabdi pegunungan Pontic dan Atmenia,dan
meluaskan kerajaan Persia sampai Kaukasus”].

**[Rintangan atau tembok yang diuraikan disini ialah tembok yang termasyur di Derbent
(atau Darband) yang terletak di pantai Laut Kaspi. Dalam kitab Marasidil – Ittila’, kitab
ilmu-bumi yang termasyur, terdapat uraian tentang hal itu. Demikian pula dalam kitabnya
lbnu at-Faqih. Encyclopaedia Biblica menjelaskan tembok itu sbb :.Derbent atau Darband
adalah sebuah kota kerajaan Persi di Kaukasus, termasuk propinsi Daghistan, di pantai
Barat laut Kaspi… Di ujung sebelah Selatan, terletak Tembok Kaukasus yang menjulang
ke laut, yang panjangnnya 50 mil, yang disebut Tembok Alexander…Tembok ini
seluruhnya mempunyai ketinggian 29 kaki, dan tebal ± 10 kaki; dan dengan pintu gerbangnya yang dibuat dari besi, dan berpuluh-puluh menara-pengintai, merupakan
pertahanan tapal-batas kerajaan Persi yang kuat].

Bab 02 : DAJJAL DAN YA’JUJ WA-MA’JUJ MENURUT AL-QUR’AN
Kata Dajjal tak tertera dalam Al-Qur’an, tetapi dalam Hadits sahih diterangkan, bahwa
sepuluh ayat pertama dan sepuluh ayat terakhir dari surat al-Kahfi melindungi orang dari
fitnahnya Dajjal, jadi menurut Hadits ini, Al-Quran memberi isyarat siapakah Dajjal itu.
Mengenai hal ini diterangkan dalam Kitab Hadits yang amat sahih sebagai berikut:

“Barang siapa hapal sepuluh ayat pertama Surat Al-Kahfi, ia akan selamat dari
(fitnahnya) Dajjal.”

“Barang siapa membaca sepuluh ayat terakhir dari surat Al-Kahfi, ia akan selamat dari
(fitnahnya) Dajjal.”

Boleh jadi, dalam menyebut sepuluh ayat pertama dan sepuluh ayat terakhir, itu yang
dituju ialah seluruh surat Al-Kahfi yang melukiskan ancaman Nasrani yang beraspek dua,
yang satu bersifat keagamaan, dan yang lain bersifat keduniaan. Bacalah sepuluh ayat
pertama dan sepuluh ayat terakhir surat Al-Kahfi, anda akan melihat seterang-terangnya
bahwa yang dibicarakan dalam dua tempat itu adalah ummat Nasrani.

Mula-mula diuraikan aspek keagamaan, yang dalam waktu itu Nabi Muhammad
dikatakan sebagai orang yang memberi peringatan umum kepada sekalian manusia (ayat
2), lalu dikatakan sebagai orang yang memberi peringatan khusus kepada ummat Nasrani
(ayat 4), yaitu ummat yang berkata bahwa Allah memungut Anak laki-laki. Demikianlah bunyinya:

“Segala puji kepunyaan Allah Yang menurunkan Kitab kepada hamba-Nya …, … agar ia
memberi peringatan tentang siksaan yang dahsyat dari Dia… dan ia memperingatkan
orang-orang yang berkata bahwa Allah memungut anak laki-laki.” (18:1-4).

Terang sekali bahwa yang dituju oleh ayat tersebut ialah ummat Nasrani, yang ajaran
pokok agamanya ialah Tuhan mempunyai Anak laki-laki. Dalam sepuluh ayat terakhir
surat Al-Kahfi diuraikan seterang-terangnya, bahwa ummat Nasrani mencapai hasil
gemilang di lapangan duniawi. Demikianlah bunyinya :

“Apakah orang-orang kafir mengira bahwa mereka dapat mengambil hamba-Ku sebagai
pelindung selain Aku?… Katakan Apakah Kami beritahukan kepada kamu orang-orang
yang paling rugi perbuatannya? (Yaitu) orang yang tersesat jalannya dalam kehidupan
dunia, dan mereka mengira bahwa mereka adalah orang yang mempunyai keahlian dalam
membuat barang-barang.” (18: 102-104).

Ini adalah gambaran tentang bangsa-bangsa Barat yang diramalkan dengan kata-kata
yang jelas. Membuat barang adalah keahlian dan kebanggaan ummat Nasrani, dan ciri-
khas inilah yang dituju oleh ayat tersebut. Mereka berlomba-lomba membuat barang-
barang, dan mereka begitu sibuk datam urusan ini, sehingga penglihatan mereka akan
nilai-nilai kehidupan yang tinggi, menjadi kabur sama sekali. Membuat barang-barang,
sekali lagi membuat barang-barang, adalah satu-satunya tujuan hidup mereka di dunia.
Jadi, sepuluh ayat pertama dan sepuluh ayat terakhir surat Al-Kahfi menerangkan dengan
jelas bahayanya ajaran Kristen tentang Putra Allah, dan tentang kegiatan bangsa-bangsa
Kristen di lapangan kebendaan, dan inilah yang dimaksud dengan fitnahnya Dajjal.

Ya’juj wa-Ma’juj diuraikan dua kali dalam Al-Quran. Yang pertama diuraikan dalam
surat al-Kahfi, sehubungan dengan uraian tentang gambaran Dajjal. Menjelang
berakhimya surat al-Kahfi, diuraikan tentang perjalanan Raja Dhul-Qarnain* ke berbagai
jurusan untuk memperkuat tapal-batas kerajaannya.

Ternyata bahwa menurut sejarah, raja ini ialah raja Persi yang bernama Darius I.
Diterangkan dalam surat tersebut, bahwa perjalanan beliau yang pertama, berakhir di laut
Hitam. “Sampai tatkala ia mencapai ujung yang paling Barat, ia menjumpai matahari
terbenam dalam sumber yang berlumpur hitam.” (18:86). Ternyata bahwa yang dimaksud
sumber yang berlumpur hitam ialah Laut Hitam.

Selanjutnya diuraikan dalam surat tersebut, kisah perjalanan beliau ke Timur “Sampai
tatkala ia mencapai tempat terbitnya matahari, ia menjumpai matahari terbit di atas kaum
yang tak Kami beri perlindungan dari (matahari) itu” (18:90). Selanjutnya diuraikan
tentang perjalanan beliau ke Utara. “Sampai tatkala ia mencapai (suatu tempat) diantara
dua bukit” (18:93).

Yang dimaksud dua bukit ialah pegunungan Armenia dan Azarbaijan. Dalam perjalanan
ke Utara ini, raja Dhul-Qarnain berjumpa dengan suatu kaum yang berlainan bahasanya, artinya, mereka tak mengerti bahasa Persi. Kaum ini mengajukan permohonan kepada
raja Dhul-Oarnain sbb: “Wahai Dhul-Qarnain! Sesungguhnya Ya’juj wa-Ma’juj itu
membuat kerusakan di bumi. Bolehkah kami membayar upeti kepada engkau, dengan
syarat sukalah engkau membangun sebuah rintangan antara kami dan mereka” (18:94).

Selanjutnya Al-Qur’an menerangkan, bahwa raja Dhul-Qarnain benar-benar membangun
sebuah tembok** dan sehubungan dengan itu, Al-Qur’an menyebut-nyebut besi dan
tembaga sebagai bahan untuk membangun pintu gerbang:

“Berilah aku tumpukan besi, sampai tatkala (besi) itu memenuhi ruangan di antara dua
bukit, ia berkata: ‘Bawalah kemari cairan tembaga yang akan kutuangkan di atasnya’
(18:96). Dalam ayat 97 diterangkan, bahwa tatkala tembok itu selesai, mereka (Ya’juj wa-
Ma’juj) tak dapat menaiki itu, dan tak dapat pula melobangi itu. Dalam ayat 98, raja
Dhul-Qarnain menerangkan, bahwa bagaimanapun kuatnya, tembok ini hanya akan
berfaedah sampai jangka waktu tertentu, dan akhirnya tembok ini akan runtuh. Lalu kita
akan dihadapkan kepada peristiwa yang lain. “Dan pada hari itu, Kami akan membiarkan
sebagian mereka (Ya’juj wa-Ma’juj) bertempur melawan sebagian yang lain” (18:99).

*[Kata Dhul-Qarnain makna aslinya “mempunyai dua tanduk”, tetapi dapat berarti pula
“orang yang memerintah dua generasi”, atau, “orang yang memerintah dua kerajaan.
Makna terakhir ini diberikan oleh musafir besar Ibnu Jarir. Dalam kitab perjanjian lama,
Kitab Nabi Daniel, terdapat uraian tentang impian nabi Daniel, dimana ia melihat seekor
domba bertanduk dua. Impian itu ditafsirkan dalam al-Kitab dengan kata-kata sebagai
berikut: “Adapun domba jantan, yang telah kau lihat dengan tanduk dua pucuk, yaitu raja
Media dan Persi, (Daniel 8:20). Diantara raja Media dan Persi, yang paling cocok dengan
gambaran Al-Quran, ialah raja Darius I (521-485 sebelum Kristus).

Jewish Encyclopaedia menerangkan sbb : “Darius adalah negarawan yang ulung.
Peperangan yang beliau lakukan hanyalah dimaksud untuk membulatkan tapal-batas
kerajaannya, yaitu di Armenia, Kaukasus, India, sepanjang gurun Turania dan dataran
tinggi Asia Tengah”. Pendapat ini dikuatkan oleh Encyclopaedia Britannica sbb: “Tulisan
yang diukir dalam batu menerangkan bahwa raja Darius adalah pemeluk agama
Zaratustra yang setia. Tetapi beliau juga seorang negarawan yang besar. Pertempuran
yang beliau lakukan, hanyalah untuk memperoleh tapal-batas alam yang kuat bagi
kerajaannya, demikian pula untuk menaklukkan suku bangsa biadab di daerah perbatasan.
Jadi, raja Darius menaklukkan bangsa biadabdi pegunungan Pontic dan Atmenia,dan
meluaskan kerajaan Persia sampai Kaukasus”].

**[Rintangan atau tembok yang diuraikan disini ialah tembok yang termasyur di Derbent
(atau Darband) yang terletak di pantai Laut Kaspi. Dalam kitab Marasidil – Ittila’, kitab
ilmu-bumi yang termasyur, terdapat uraian tentang hal itu. Demikian pula dalam kitabnya
lbnu at-Faqih. Encyclopaedia Biblica menjelaskan tembok itu sbb :.Derbent atau Darband
adalah sebuah kota kerajaan Persi di Kaukasus, termasuk propinsi Daghistan, di pantai
Barat laut Kaspi… Di ujung sebelah Selatan, terletak Tembok Kaukasus yang menjulang
ke laut, yang panjangnnya 50 mil, yang disebut Tembok Alexander…Tembok ini
seluruhnya mempunyai ketinggian 29 kaki, dan tebal ± 10 kaki; dan dengan pintu gerbangnya yang dibuat dari besi, dan berpuluh-puluh menara-pengintai, merupakan
pertahanan tapal-batas kerajaan Persi yang kuat].

Sumber : Hamba Allah

pemberitahuan

alhmdllh acara Ramadhan In Campus telah selesai dgn lncar,,, smoga nnti RIC yg slanjutny dpt lbih baik lgi acarany dri hri kmren…